Jumat, 02 Januari 2026

Hujan Bogor, Kopi Hangat, dan Percakapan yang Menenangkan


Pagi itu Bogor kembali setia dengan hujannya. Sejak matahari belum benar-benar naik, rintik turun perlahan, membungkus kota dengan udara dingin yang menenangkan. Liburan menjelang Natal membuat suasana terasa lebih santai, tidak terburu-buru. Aku dan seorang teman memutuskan pergi ke Summarecon Bogor, mencari tempat singgah untuk menghangatkan diri sekaligus menikmati waktu tanpa agenda.


Langkah kami berhenti di Maco JCO. Dari luar, tempat itu tampak terang dan ramah, kontras dengan langit abu-abu di luar. Begitu masuk, aroma kopi dan donat langsung menyapa, seperti undangan halus untuk duduk lebih lama. Kami memilih sudut yang menghadap jendela, tempat terbaik untuk memandang hujan sambil berbincang pelan.


Secangkir kopi latte datang lebih dulu, hangat dan menenangkan. Tak lama, donat-donat tersaji, sederhana tapi selalu punya cara sendiri untuk membuat hati ringan. Gigitan pertama terasa pas manis yang tidak berlebihan seolah cocok dengan suasana pagi yang tenang. Di antara uap kopi dan denting sendok, obrolan pun mengalir.


Kami berbicara tentang kehidupan, tentang hari-hari yang kadang terasa mudah, dan waktu-waktu lain yang menuntut lebih banyak sabar. Tentang rencana yang belum sepenuhnya tercapai, juga tentang lelah yang sering disimpan sendiri. Namun anehnya, tidak ada rasa berat. Justru ada kelegaan ketika kata-kata bisa keluar apa adanya, tanpa perlu dibungkus sempurna.


Di tengah percakapan itu, aku belajar satu hal penting: kadang kita tidak perlu banyak bicara, cukup mendengarkan dengan hati yang penuh syukur. Mendengarkan sambil menyadari bahwa Allah masih begitu sayang. Bahwa hingga hari ini, kita masih diberi kehidupan yang indah, tentram, dan damai meski dunia di luar sana terus bergerak cepat dan tak selalu ramah.

Hujan di luar jendela masih turun, tapi di dalam Maco JCO Summarecon Bogor, suasana terasa hangat. Ada rasa tenang yang tidak bisa dibeli, hanya bisa dirasakan. Dari kopi latte yang menenangkan, donat yang sederhana, hingga perbincangan yang jujur, semuanya menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk paling bersahaja.


Saat kami beranjak pergi, hujan belum juga reda. Namun langkahku terasa lebih ringan. Aku pulang membawa rasa syukur yang utuh bahwa di sela liburan, di sebuah sudut Bogor yang basah, Allah mempertemukan kehangatan, pertemanan, dan ketenangan dalam satu pagi yang sederhana namun bermakna.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hanamasa: AYCE Tanpa Batas Waktu

  Siang itu, langkah kakiku terhenti di depan Hanamasa Pajajaran Bogor. Matahari sedang terik, tapi rasa penasaran justru terasa lebih hanga...