Rabu, 07 Januari 2026

Secangkir Kopi Hitam

 


Pagi itu, Surya Kencana belum sepenuhnya terjaga, tapi denyutnya sudah terasa. Di sebuah toko roti yang hangat dan bersih, aku duduk di depan secangkir kopi hitam gula aren. Cangkirnya sederhana, warnanya lembut, kontras dengan isi kopi yang pekat dan jujur. Asap tipis naik perlahan, seolah ikut membawa semua kegundahan yang sejak tadi menyesakkan dada.

Aku memilih duduk menghadap jalan. Dari balik kaca, Surya Kencana menyajikan pertunjukan pagi yang tak pernah sama, namun selalu penuh cerita. Orang-orang lalu lalang dengan tujuan masing-masing—ada yang terburu-buru, ada yang santai, ada pula yang tampak pasrah pada rutinitas. Aku menyeruput kopi, pahitnya langsung menampar lidah, manis gula aren menyusul pelan, seperti hidup yang sering terasa keras di awal, lalu menyisakan harapan kecil di akhirnya.

Hati sedang meratap. Tentang kehidupan yang terasa tidak adil, tentang langkah yang seolah jalan di tempat, tentang usaha yang belum juga berbuah perkembangan. Di kepala, pertanyaan-pertanyaan berputar tanpa jawaban: “Kurang apa lagi?” “Sampai kapan seperti ini?” Kopi di tanganku tak menjawab, tapi setidaknya ia setia menemani.

Di dalam toko roti, para pelanggan datang silih berganti. Mereka berdiri di depan etalase, memilah roti dengan senyuman merekah. Tangannya menunjuk satu, dua, tiga jenis roti—tanpa ragu, tanpa tampak beban. Seolah harga hanyalah angka, bukan pertimbangan hidup. Seolah hari esok akan baik-baik saja. Aku memerhatikan mereka sambil kembali menyeruput kopi, lalu bertanya dalam hati, “Sedangkan aku?”

Tatapanku beralih ke luar. Jalan Surya Kencana kini semakin ramai. Seorang bapak mendorong gerobak dagangan dengan peluh di pelipis. Seorang pemulung menunduk, mengais botol plastik dengan kesabaran yang nyaris tak terdengar. Tukang jajanan melintas sambil menggendong jualannya, langkahnya pelan namun pasti. Mereka semua sedang berusaha—bukan untuk mimpi besar, tapi untuk bertahan hidup hari ini.

Di momen itu, hatiku seperti ditikam belati. Perih, tapi membuka mata. Rupanya, sekelumit rumit hidupku tak seberapa dibandingkan ratusan, bahkan ribuan orang di luar sana yang bangun setiap pagi dengan beban yang jauh lebih berat. Aku mungkin lelah karena tak maju, tapi mereka lelah karena harus terus berjalan agar tak jatuh.

Kopi hitam gula aren itu akhirnya habis. Pahitnya masih tertinggal, tapi kini terasa lebih jujur, lebih bisa diterima. Di antara hiruk pikuk Surya Kencana, aku belajar bahwa hidup memang tidak selalu adil, tapi selalu memberi alasan untuk bersyukur—jika kita mau melihat lebih luas.

Aku tersenyum kecil, menarik napas, dan berjanji pada diri sendiri untuk lebih lembut pada hidup. Karenar seperti kata Taylor Swift, “You’ve got no reason to be afraid, you’re on your own, kid — yeah, you can face this.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Secangkir Kopi Hitam

  Pagi itu, Surya Kencana belum sepenuhnya terjaga, tapi denyutnya sudah terasa. Di sebuah toko roti yang hangat dan bersih, aku duduk di de...