Sabtu, 03 Januari 2026

A Slice of Happiness

A Slice of Happiness


Kebahagiaan sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang besar. Target yang tercapai, mimpi yang terwujud, atau hidup yang akhirnya terasa “beres”. Padahal, dalam keseharian yang penuh tuntutan, kebahagiaan justru lebih sering datang dalam bentuk yang sederhana. Kadang, ia hanya hadir sebagai sepotong makanan di tengah hari yang melelahkan.



Memang terdengar agak buru-buru jika mengatakan sepotong pizza bisa membuat hidup terasa lebih bahagia, atau sepotong kue mampu menambah rasa senang. Tapi jika kita jujur pada diri sendiri, ada momen tertentu ketika gigitan pertama terasa seperti tombol pause. Dunia sejenak melambat. Pikiran yang tadinya penuh mulai tenang. Dan tanpa sadar, sudut bibir ikut terangkat.



Kuliner bukan hanya soal mengenyangkan perut. Ia punya cara lembut untuk menyentuh emosi. Rasa gurih, manis, pedas, atau asam bekerja bukan hanya di lidah, tapi juga di otak. Ada hormon kebahagiaan yang dilepaskan, membuat tubuh merasa lebih nyaman, hati terasa lebih ringan. Bukan karena masalah hilang, tapi karena kita diberi ruang kecil untuk bernapas.



Sepotong makanan sering menjadi teman di momen-momen yang tak selalu sempurna. Saat makan sendirian setelah hari yang panjang, saat merayakan hal kecil yang mungkin tak dianggap siapa pun, atau saat butuh penghiburan tanpa banyak kata. Di situ, makanan hadir tanpa menghakimi. Ia tak bertanya kenapa kita lelah, tak menuntut kita untuk kuat. Ia hanya ada, siap dinikmati.



Ada juga kenangan yang terselip di setiap rasa. Sepotong kue bisa membawa kita kembali ke ulang tahun masa kecil. Sepiring makanan rumahan mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang pernah membuat kita merasa aman. Aroma tertentu bahkan mampu menarik ingatan lama yang sudah lama kita simpan. Dalam satu gigitan, waktu bisa mundur, dan perasaan hangat kembali terasa.



Itulah mengapa setiap orang punya a slice of happiness versinya sendiri. Bagi sebagian orang, mungkin itu kopi hangat di pagi hari. Bagi yang lain, camilan favorit di pinggir jalan, atau makanan sederhana yang selalu berhasil menghibur setelah hari yang buruk. Tidak harus mahal, tidak perlu mewah. Yang penting, ia punya makna.



Hidup memang tidak selalu manis. Ada hari-hari yang terasa berat, ada cerita yang belum selesai, ada lelah yang tak sempat diceritakan. Tapi di antara semua itu, kita masih bisa memberi diri sendiri satu potong kebahagiaan. Sebuah jeda kecil, sebuah rasa yang menyenangkan, sebuah momen untuk berkata, “aku pantas merasa bahagia, meski sebentar.”



Dan mungkin, kebahagiaan memang seperti itu. Tidak selalu utuh, tidak selalu sempurna. Kadang ia hanya datang sebagai sepotong. Tapi dari sepotong itulah, kita bisa kembali melangkah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kulineran dengan View City Light Jakarta

Salah satu pengalaman kuliner yang selalu meninggalkan kesan adalah menikmati makanan di atas ketinggian. Ada sensasi berbeda ketika sepirin...