Siang itu, langkah kakiku terhenti di depan Hanamasa Pajajaran Bogor. Matahari sedang terik, tapi rasa penasaran justru terasa lebih hangat. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku datang ke Hanamasa. Sebuah nama yang sudah sering kudengar, tapi baru kali ini benar-benar ingin kucoba. Sebagai pecinta kuliner, seharusnya aku antusias. Namun ada satu hal yang membuatku ragu sejak awal: konsep All You Can Eat.
Aku bukan tipe orang yang menikmati makan dengan sistem waktu terbatas. Bagiku, makan adalah soal menikmati rasa, aroma, dan momen, bukan soal berpacu dengan jam. Pengalaman buruk pernah aku alami beberapa waktu lalu. Saat itu aku mencoba AYCE di salah satu mal, dengan durasi 90 menit. Alih-alih menikmati hidangan, aku justru sibuk melirik jam. Setiap suapan terasa seperti dikejar-kejar. Ketika makanan belum habis dan waktu hampir habis, aku terpaksa menambah durasi 30 menit dengan biaya tambahan. Pulang dari sana, perut kenyang tapi hati kurang senang. Sejak itu, aku sempat trauma dengan konsep AYCE.
Namun cerita berubah saat aku tahu satu hal tentang Hanamasa: tidak ada batasan waktu. Informasi sederhana itu cukup membuatku berhenti ragu. “Kalau begitu, kenapa tidak?” pikirku. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan trauma lama. Dan siang itu, aku melangkah masuk dengan ekspektasi yang biasa saja tanpa berharap terlalu tinggi.
Begitu duduk dan mulai melihat-lihat pilihan menu, pandanganku langsung berubah. Hanamasa menawarkan begitu banyak pilihan. Menu grill yakiniku-nya terasa sangat lengkap. Mulai dari daging segar dengan berbagai potongan, hingga daging olahan yang siap dipanggang. Aroma daging yang terbakar di atas grill perlahan memenuhi meja, menggugah selera tanpa perlu terburu-buru.
Tak hanya yakiniku, menu shabu-shabu di Hanamasa juga tak kalah menggoda. Pilihan daging segar, seafood, sayuran, hingga aneka jamur tersusun rapi. Rasanya menyenangkan bisa memilih sendiri bahan-bahan favorit, lalu menikmatinya perlahan dalam kuah hangat.
Ada pula menu robatayaki, sate-satean khas Jepang yang bisa dipesan langsung dan akan diantar ke meja. Tinggal duduk manis, lalu menikmati. Untuk pelengkap, tersedia berbagai side dish seperti ebi furai, takoyaki, dan aneka gorengan lainnya yang cocok jadi selingan di antara sesi grill dan shabu-shabu.
Yang membuatku semakin betah adalah pilihan salad yang lengkap dan segar. Buah-buahan juga tersedia dengan variasi yang tak kalah menarik. Untuk minuman, pilihannya beragam. Bahkan ada es campur yang bisa diracik sendiri, jajanan pasar, hingga puding sebagai penutup. Semua tersaji seperti mengajak kita menikmati makan tanpa aturan kaku.
Dan benar saja, makan di Hanamasa terasa santai. Tidak ada jam yang terus diawasi. Tidak ada rasa bersalah karena mengambil makanan terlalu lama. Semuanya mengalir apa adanya. Ditambah lagi, Hanamasa sudah tersertifikasi halal—sebuah nilai tambah yang membuatku semakin nyaman.
Sayangnya, kebahagiaan itu hanya tinggal kenangan. Beberapa bulan setelah kunjungan tersebut, kabar kurang menyenangkan datang. Hanamasa Pajajaran Bogor, satu-satunya cabang di Bogor harus menutup pintunya, menyusul cabang di Margo City Depok.
Meski sedih, aku memilih menyimpan harapan. Semoga Hanamasa tetap bertahan, terus menemani pecinta kuliner dengan konsep AYCE yang ramah dan menyenangkan, serta kembali membuka banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Karena bagiku, Hanamasa bukan sekadar tempat makan tapi tempat berdamai dengan trauma lama dan kembali menikmati makan tanpa terburu-buru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar