Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Februari 2026

Hanamasa: AYCE Tanpa Batas Waktu

 


Siang itu, langkah kakiku terhenti di depan Hanamasa Pajajaran Bogor. Matahari sedang terik, tapi rasa penasaran justru terasa lebih hangat. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku datang ke Hanamasa. Sebuah nama yang sudah sering kudengar, tapi baru kali ini benar-benar ingin kucoba. Sebagai pecinta kuliner, seharusnya aku antusias. Namun ada satu hal yang membuatku ragu sejak awal: konsep All You Can Eat.

Aku bukan tipe orang yang menikmati makan dengan sistem waktu terbatas. Bagiku, makan adalah soal menikmati rasa, aroma, dan momen, bukan soal berpacu dengan jam. Pengalaman buruk pernah aku alami beberapa waktu lalu. Saat itu aku mencoba AYCE di salah satu mal, dengan durasi 90 menit. Alih-alih menikmati hidangan, aku justru sibuk melirik jam. Setiap suapan terasa seperti dikejar-kejar. Ketika makanan belum habis dan waktu hampir habis, aku terpaksa menambah durasi 30 menit dengan biaya tambahan. Pulang dari sana, perut kenyang tapi hati kurang senang. Sejak itu, aku sempat trauma dengan konsep AYCE.

Namun cerita berubah saat aku tahu satu hal tentang Hanamasa: tidak ada batasan waktu. Informasi sederhana itu cukup membuatku berhenti ragu. “Kalau begitu, kenapa tidak?” pikirku. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan trauma lama. Dan siang itu, aku melangkah masuk dengan ekspektasi yang biasa saja tanpa berharap terlalu tinggi.

Begitu duduk dan mulai melihat-lihat pilihan menu, pandanganku langsung berubah. Hanamasa menawarkan begitu banyak pilihan. Menu grill yakiniku-nya terasa sangat lengkap. Mulai dari daging segar dengan berbagai potongan, hingga daging olahan yang siap dipanggang. Aroma daging yang terbakar di atas grill perlahan memenuhi meja, menggugah selera tanpa perlu terburu-buru.

Tak hanya yakiniku, menu shabu-shabu di Hanamasa juga tak kalah menggoda. Pilihan daging segar, seafood, sayuran, hingga aneka jamur tersusun rapi. Rasanya menyenangkan bisa memilih sendiri bahan-bahan favorit, lalu menikmatinya perlahan dalam kuah hangat.

Ada pula menu robatayaki, sate-satean khas Jepang yang bisa dipesan langsung dan akan diantar ke meja. Tinggal duduk manis, lalu menikmati. Untuk pelengkap, tersedia berbagai side dish seperti ebi furai, takoyaki, dan aneka gorengan lainnya yang cocok jadi selingan di antara sesi grill dan shabu-shabu.

Yang membuatku semakin betah adalah pilihan salad yang lengkap dan segar. Buah-buahan juga tersedia dengan variasi yang tak kalah menarik. Untuk minuman, pilihannya beragam. Bahkan ada es campur yang bisa diracik sendiri, jajanan pasar, hingga puding sebagai penutup. Semua tersaji seperti mengajak kita menikmati makan tanpa aturan kaku.

Dan benar saja, makan di Hanamasa terasa santai. Tidak ada jam yang terus diawasi. Tidak ada rasa bersalah karena mengambil makanan terlalu lama. Semuanya mengalir apa adanya. Ditambah lagi, Hanamasa sudah tersertifikasi halal—sebuah nilai tambah yang membuatku semakin nyaman.

Sayangnya, kebahagiaan itu hanya tinggal kenangan. Beberapa bulan setelah kunjungan tersebut, kabar kurang menyenangkan datang. Hanamasa Pajajaran Bogor, satu-satunya cabang di Bogor harus menutup pintunya, menyusul cabang di Margo City Depok.

Meski sedih, aku memilih menyimpan harapan. Semoga Hanamasa tetap bertahan, terus menemani pecinta kuliner dengan konsep AYCE yang ramah dan menyenangkan, serta kembali membuka banyak cabang di berbagai kota di Indonesia. Karena bagiku, Hanamasa bukan sekadar tempat makan tapi tempat berdamai dengan trauma lama dan kembali menikmati makan tanpa terburu-buru.


Jumat, 02 Januari 2026

Hujan Bogor, Kopi Hangat, dan Percakapan yang Menenangkan


Pagi itu Bogor kembali setia dengan hujannya. Sejak matahari belum benar-benar naik, rintik turun perlahan, membungkus kota dengan udara dingin yang menenangkan. Liburan menjelang Natal membuat suasana terasa lebih santai, tidak terburu-buru. Aku dan seorang teman memutuskan pergi ke Summarecon Bogor, mencari tempat singgah untuk menghangatkan diri sekaligus menikmati waktu tanpa agenda.


Langkah kami berhenti di Maco JCO. Dari luar, tempat itu tampak terang dan ramah, kontras dengan langit abu-abu di luar. Begitu masuk, aroma kopi dan donat langsung menyapa, seperti undangan halus untuk duduk lebih lama. Kami memilih sudut yang menghadap jendela, tempat terbaik untuk memandang hujan sambil berbincang pelan.


Secangkir kopi latte datang lebih dulu, hangat dan menenangkan. Tak lama, donat-donat tersaji, sederhana tapi selalu punya cara sendiri untuk membuat hati ringan. Gigitan pertama terasa pas manis yang tidak berlebihan seolah cocok dengan suasana pagi yang tenang. Di antara uap kopi dan denting sendok, obrolan pun mengalir.


Kami berbicara tentang kehidupan, tentang hari-hari yang kadang terasa mudah, dan waktu-waktu lain yang menuntut lebih banyak sabar. Tentang rencana yang belum sepenuhnya tercapai, juga tentang lelah yang sering disimpan sendiri. Namun anehnya, tidak ada rasa berat. Justru ada kelegaan ketika kata-kata bisa keluar apa adanya, tanpa perlu dibungkus sempurna.


Di tengah percakapan itu, aku belajar satu hal penting: kadang kita tidak perlu banyak bicara, cukup mendengarkan dengan hati yang penuh syukur. Mendengarkan sambil menyadari bahwa Allah masih begitu sayang. Bahwa hingga hari ini, kita masih diberi kehidupan yang indah, tentram, dan damai meski dunia di luar sana terus bergerak cepat dan tak selalu ramah.

Hujan di luar jendela masih turun, tapi di dalam Maco JCO Summarecon Bogor, suasana terasa hangat. Ada rasa tenang yang tidak bisa dibeli, hanya bisa dirasakan. Dari kopi latte yang menenangkan, donat yang sederhana, hingga perbincangan yang jujur, semuanya menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering hadir dalam bentuk paling bersahaja.


Saat kami beranjak pergi, hujan belum juga reda. Namun langkahku terasa lebih ringan. Aku pulang membawa rasa syukur yang utuh bahwa di sela liburan, di sebuah sudut Bogor yang basah, Allah mempertemukan kehangatan, pertemanan, dan ketenangan dalam satu pagi yang sederhana namun bermakna.


Kamis, 01 Januari 2026

Kuliner Unik: Kerupuk Siram Tauco

Bogor memang nggak pernah kehabisan kejutan soal kuliner. Kota hujan ini selalu punya cara sederhana tapi berkesan untuk memanjakan lidah. Salah satu yang belakangan ramai jadi perbincangan adalah hadirnya area nongkrong baru di Summarecon Bogor, tepatnya di Graha Boulevard.


Graha Boulevard kini jadi magnet baru buat warga Bogor dan sekitarnya. Deretan tenant kuliner berjajar rapi, mulai dari menu sarapan ringan, makanan berat untuk makan siang, sampai pilihan santai untuk makan malam. Suasananya nyaman, tertata modern, dan cocok banget buat nongkrong bareng teman, sahabat, atau keluarga. Mau sekadar ngopi sore, kulineran, atau ngobrol panjang tanpa merasa tergesa—tempat ini pas.


Di antara banyaknya pilihan kuliner, ada satu yang unik dan langsung mencuri perhatian: kerupuk siram tauco di Bakso Bedjo. Lokasinya gampang ditemukan, persis dekat dengan toko roti dan donat favorit banyak orang, JCO Maco Cake and Bakery. Meski namanya Bakso Bedjo, jangan salah sangka. Di sini bukan cuma bakso yang jadi andalan, tapi juga satu menu sederhana yang justru terasa istimewa.


Biasanya, kerupuk identik dengan sambal kacang, saus cair, atau disiram kuah santan seperti yang sering kita temui di warung Padang. Tapi di Bakso Bedjo, kerupuk kuning disajikan dengan cara berbeda, disiram tauco. Jujur, ini pertama kalinya aku menemukan kombinasi seperti ini.


Kerupuk kuningnya renyah, ringan, dan gurih. Saat tauco hangat disiram di atasnya, tekstur crunchy itu berpadu dengan saus yang kental dan beraroma khas. Tauco sendiri punya rasa yang kompleks: gurih asin, sedikit manis, dengan sentuhan fermentasi yang dalam. Ada aroma kacang kedelai yang kuat, sedikit earthy, dan aftertaste yang bikin nagih. Bukan rasa yang agresif, tapi justru membumi seperti masakan rumahan tempo dulu.


Perpaduan ini bikin kerupuk siram tauco terasa sangat lokal. Bukan sekadar camilan, tapi seperti potongan cerita kuliner tradisional yang dihidupkan kembali dengan cara sederhana. Rasanya akrab, tapi tetap terasa baru. Setiap suapan menghadirkan kontras antara renyah kerupuk dan lembutnya tauco yang meresap perlahan.


Menariknya lagi, kerupuk siram tauco ini bisa jadi teman makan atau camilan santai sambil ngobrol. Cocok disantap kapan saja, entah itu pagi hari sebelum mulai aktivitas, atau sore menjelang malam sambil menikmati suasana Graha Boulevard.


Selain menu unik ini, Bakso Bedjo juga menyediakan aneka makanan lain seperti bakso, soto, dan menu rumahan yang mengenyangkan. Jadi kalau datang rame-rame, semua orang tetap punya banyak pilihan.




Kerupuk siram tauco mungkin terlihat sederhana, tapi justru di situlah keistimewaannya. Kuliner ini membuktikan bahwa rasa unik tak selalu harus mahal atau rumit. Kadang, cukup mengolah bahan sederhana dengan sentuhan kearifan lokal hasilnya bisa meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.


Launching Menu Bukber AYCE di HoneyLand Sentul

Kalau ngomongin bukber ya bun, yang dicari itu pasti dua: makanannya enak dan harganya nggak bikin dompet nangis. Nah kemarin aku dan keluar...